PAPAN INFORMASI

PAPAN INFORMASI

Sabtu, 12 Juni 2010

Kesenian Khas Betawi-Arab

Kesenian HADROH

SEJARAH munculnya musik tradisional Hadroh berasal dari kampung Pondok Pinang Jakarta Selatan. Tokoh legendaris Hadroh Mudehir konon ceritanya adalah seorang tuna netra. Mudehir diceritakan memiliki ketrampilan tehnis Hadroh yang sempurna. Variasi pukulannya sangat kaya. Bahkan dengan kakinya, suara rebana yang dipukul masih sempurna. Suaranya indah, daya hafalnya atas syair Diiwan Hadroh sangat baik.

Sepeninggalan Mudehir pada tahun 1960, Hadroh seperti mati suri. Geliatnya perlahan mulai hilang dan nyaris tinggal kenangan. Beruntung dalam beberapa tahun terakhir ini, musik tradisional asal Betawi tersebut mulai muncul lagi.

Beberapa tokoh Betawi dan elemen masyarakat mencoba menghidupkannya. Salah satunya adalah Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf. Melalui Majelis Taklim Nurul Musthofa, Habib Hasan kemudian membentuk group Hadroh bernama Nurul Musthofa.

Lagu-lagu dan warna musik dari Hadroh yang cenderung religi dikatakan Djohari, Sekjen Majelis Taklim Nurul Musthofa memungkinkan jenis musik ini berkembang di sekitar majelis taklim maupun masjid. Ini tak lepas dari sejarah Hadroh itu sendiri dimana sejak awal kemunculannya banyak digunakan untuk acara-acara keagamaan dan perkawinan adat Betawi.

Gambar : Wakil Camat Setiabudi memberikan sambutan & Mauizoh hassanah.

“Untuk kepentingan syiar agama, kami mendirikan Hadroh. Sekaligus juga untuk melestarikan budaya Betawi,” tutur Djohari yang juga Wakil Camat Setiabudi.

Lagu-lagu Hadroh diambil dari syair Diiwan Hadroh dan syair Addibaai. Ciri khas dari kesenian Hadroh ini adalah adu zikir. Dalam adu zikir, ditampilkan dua group yang silih berganti membawakan syair Diiwan Hadroh. Group yang kalah umumnya karena kurang hafal dalam membawakan syair Diiwan Hadroh.

Alat musik Hadroh sendiri sangat sederhana yakni rebana. Hanya saja cara memainkan rebana Hadroh bukan dipukul biasa tetapi dipukul seperti memainkan gendang.

Ada tiga instrumen rebana Hadroh yakni bawa, ganjil atau seling dan gedug. Bawa berfungsi sebagai komando, ciri kahsnya irama pukulannya lebih cepat. Ganjil atau seling berfungsi saling mengisi dengan bawa, dan gedug berfungsi sebagai bas.

Sedang jenis pukulan rebana Hadroh ada empat yaitu tepak, kentang, gedug dan pentil. Kempat jenis pukulan itu dilengkapi dengan nama-nama irama pukulan. Antara lain jalan, sander, sabu, pegatan, sirih panjang, sirih pendek dan bima.

Group musik Hadroh Nurul Musthofa yang bermarkas di Ciganjur, Jakarta Selatan tersebut beranggotakan 42 orang. Sebagian besar merupakan generasi muda yang gemar berkesenian. Tiap malam Minggu, group yang berdiri sejak l984 ini selalu bertemu baik untuk tampil maupun sekedar berlatih.

Awalnya Hadroh Nurul Musthofa memang didirikan untuk kepentingan syiar agama Islam. Sebab bersyiar melalui musik, jauh lebih menarik dibanding dengan cara-cara yang monoton.

Namun belakangan, selain untuk kepentingan syiar, group Hadroh juga menjadi salah satu media bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat seninya. “Beberapa lagu dari Hadroh Nurul Musthofa sudah menjadi nada sambung telepon seluler,” tambah Djohari.

Rebana Hadtoh pernah ada di kampung Grogol Utara, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Kalibata, Duren Tiga, Utan Kayu, Kramat Sentiong dan Paseban. Sayangnya group-group Hadroh tersebut kini tinggal kenangan.

Munculnya group musik Hadroh semacam Nurul Musthofa, diharapkan mampu menghidupkan kembali budaya Betawi yang nyaris punah tersebut.

Foto : Group Hadroh Nurul Musthofa saat tampil unjuk kebolehan.

Penulis Artikel : Inung - Poskota

Juru Foto : Ridwan K

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELAMAT DATANG DI KELURAHAN KUNINGAN TIMUR | DAPATKAN INFORMASI SEPUTAR WILAYAH KUNINGAN TIMUR KECAMATAN SETIABUDI | | KLIK PADA LAYANAN PRIMA , ANDA LANGSUNG TERSAMBUNG OLEH OPERATOR Via CHATTING :: kel_kuningantimur@yahoo.com :: dan ::: kelkuntim@gmail.com ::. Atau Via TELP. (021) 5 2 5 3 8 6 8 | TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA